Tuesday, 12 January 2016


PENINGKATAN MUTU BENIH MELALUI
PRODUKSI CLOWNFISH FROST BITE DAN SNOW FLAKE
(Amphiprion ocellaris)

Clownfish merupakan ikan hias  laut yang memiliki keunikan tersendiri sehingga banyak diminati oleh para pecinta akuarium laut oleh karena itu permintaannyapun terus meningkat baik dalam negeri maupun di manca negara. Clownfish  memiliki jenis dan varian yang cukup banyak dan variannya akan terus berkembang melalui perbaikan genetic seperti halnya ikan air tawar jenis koi. Jenis varian yang memiliki corak yang unik sangat diminati oleh para kolektor ikan hias laut sehingga tidak aneh jika harganya dapat berlipat ganda dari biasanya. Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon berupayah keras melakukan perbaikan genetic melalui persilangan guna meningkatkan mutuh benih sehingga dapat memberikan mamfaat yang besar bagi masyarakat pembudidaya. Dari hasil beberapa persilangan tersebut didapatkan beberapa jenis varian yang memiliki nilai ekonomis tinggi seperti Picasso, platinum, frost bite, snow flake, onyx, black photon dan beberapa jenis varian lainnya.
                Salah satu jenis varian clownfish yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak diminati oleh pasar adalah frost bite dan snow flake. Produksi benih frost bite dan snow flake dapat dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut:

1.      Pemilihan induk
Untuk memilih induk yang pertama diperhatikan adalah dari segi kesehatan, jenis, ukuran minimal jantan 5 cm dan betina 7 cm. Pilih induk dari jenis frost bite dan snow flake, jenis ini sudah banyak dijual di toko ikan hias laut. Dalam memilih induk tentunya yang harus dipertimbangkan adalah corak dan warna yang banyak diminati oleh pasar  dan informasi ini dapat diketahui lewat eksportir atau toko ikan hias yang sudah biasa menjual ikan tersebut.

2.      Perjodohan
Teknik perjodohan dapat dilakukan dengan  persilangan atau tanpa persilangan yang terpenting adalah jantan dibedakan ukurannya dengan betina  kira-kira jantan minimal 5 cm dan induk betina 7 cm. Pasangan induk dapat dimasukkan secara bersamaan atau jantan lebih duluan kedalam wadah pemeliharaan. Lakukan pengamatan kecocokan dan apabila tidak cocok segera diganti pasangannya karena induk jantan bisa mati terbunuh oleh betina. Tanda tanda pasangan induk yang cocok/berjodoh dapat dilihat dengan cara berenangnya yaitu sering beriringan atau minimal induk damai/tidak berantem di dalam wadah. Setelah terjadi kecocok/berjodoh maka sebaiknya diberikan tempat perlindungan  disertai anemone agar ikan merasa nyaman. Wadah pemeliharaan induk minimal dapat menampung air sebanyak 50 liter.
Frost bite dengan Snow flake



Frost bite dengan Frost bite



3.      Penanganan induk
Penanganan induk dapat dilakukan dengan system sirkulasi atau resirkulasi air dan diberikan aerasi untuk mensuplai oksigen kedalam air. Pemberian pakan dapat dilakukan 3-4 kali sehari, pakan yang diberikan dapat berupa pellet, cacing darah ataupun artemia. Perlu diketahui bahwa selain  pengaruh genetic, pakan yang bermutu dan teknik pemberian pakan yang benar berpengaruh terhadap tingkat prosentase benih frost bite dan snow flake yang dihasilkan oleh induk. Pengamatan induk perlu dilakukan setiap hari terutama dari segi fisik seperti perubahan warna, tingkat keagresipan dan adanya benda asiang yang biasa menempel pada tubuhnya sehingga dapat ditanggulangi sebelum menjadi parah. Untuk menanggulangi parasite yang biasa menempel pada tubuh clownfish dapat dilakukan dengan perendaman air tawar selama 5 sampai 10 menit sedangkan untuk bakteri dapat dilakukan dengan perendaman antibiotic.

4.      Pemijahan dan pengeraman telur
Induk yang mau memijah dapat ditandai dengan perut yang membuncit pada betina dan sering membersihkan tempat yang akan menjadi tempat penempelan telurnya. Pemijahan biasanya terjadi pada siang atau sore hari. Warna telur pada hari pertama dan  kedua berwarna orange, pada hari ketiga dan keempat berwarna coklat gelap kemudian pada hari kelima dan keenam berwarna bening dan kelihatan jelas larva yang ada di dalam selaput telur dengan mata yang berkilau. Pengeraman telur berlangsung sekitar 7 hari dan proses pengeraman tersebut dilakukan dengan cara merawat/membersihkan telur dari benda asing yang menempel pada telur.. Telur yang rusak biasanya dicabut atau dimakan dan kemungkinan ini dilakukan untuk mencegah penularan pada telur lannya. Induk yang baru belajar bertelur seringkali telurnya rusak dan habis sebelum menetas dan biasanya telur tidak tertata rapih sedangkan induk yang sudah produktif sekali memijah dapat menghasilkan telur sebanyak 1.000 sampai 1.500 butir, telurnya tertata rapih dan biasanya memijah 3 kali sebulan.

5.      Pemeliharaan larva
Pemeliharaan larva sebaiknya dilakukan pada wadah yang memiliki kapasitas air yang cukup banyak sehingga dapat meminimalisasi fluktuasi air kira-kira volumenya 1,5 ton. (1.500 lter). Tahapan awal pemeliharaan larva adalah membersihkan wadah, pengisian air, pengaturan tekanan aerasi. dan pemberian phytoplankton yang berfungsi selain menetralkan cahaya juga makan rotifer. Pada hari pertama, larva diberikan pakan alami berupa rotifer sampai hari ke 7 atau 9 kemudidan menyusul naupli artemia pada hari ke 7 atau 9 tergantung perkembangan larva karena pakan yang diberikan harus disesuaikan dengan bukaan mulutnya. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan kepadatan/kebutuhan larva, hal ini sangat penting diketahui dimana nantinya penumpukan pakan alami dapat mengurangi oksigen di dalam air. Penambahan phytoplankton dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Pergantian air dilakukan jika kualitas air mulai rusak dan dapat ditandai dengan busa air yang berlebihan atau kental. Perubahan warna larva mulai muncul pada hari ke 7 hingga hari ke 10 yaitu dari gelap menjadi orange, disusul munculnya garis putih pada bagian leher yaitu sekitar hari ke 10 hingga hari ke 13, kemudian garis putih pada bagian pertengahan dan terakhir pada bagian pangkal ekor.
Pemindahan larva ke tempat pemeliharaan benih dapat dilakukan setelah larva cukup kuat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Setelah dilakukan beberapa pengkajian ternyata hasil terbaik adalah setelah corak putih muncul pada bagian tengah tubuh ikan  yaitu larva sudah berumur sekitar 15 hingga 20 hari tergantung laju pertumbuhannya. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan adalah genetic, lingkungan, makanan, kesehatan dan sebagainya.

6.      Pemeliharaan benih
Pemeliharaan benih dapat dilakukan dengan system  sirkulasi air ataupun resirkulasi. wadah pemeliharaan benih dapat berupa akuarium, bak fiber, bak beton atau wadah lain yang berkapasitas minimal 50 liter. Pakan yang diberikan adalah naupli artemia dan pakan pellet, akan tetapi setelah semua benih sudah mampu mengkonsumsi pakan pellet maka pemberian naupli artemia dapat dihentikan. Frekwensi pemberian pakan dilakukan 4 kali sehari. Untuk mencegah penumpukan kotoran yang dapat mengakibatkan pembusukan maka dilakukan penyiponan minimal 2 kali sehari sedangkan pencucian wadah hanya dilakukan sestiap saat yaitu apabila wadah sudah terlihat kotor.
Dalam pemeliharaan benih juga dikenal istilah Grading yaitu memisahkan atau mengelompokkan benih berdasarkan ukuran, corak atau  jenis namun yang terpenting adalah mengelompokkan benih berdasarkan ukuran untuk menghindari persaingan sehingga yang kecil sulit untuk tumbuh normal.

Benih yang belum di grading

Wednesday, 3 September 2014

Hybrid Clownfish


Hybrid Clownfish Amphiprion pecula onyx VS Amphiprion ocellaris black  
Tujuan dari hybrid ini adalah untuk menghasilkan benih yang berkualitas baik dari segi corak, warna, pertumbuhan maupun daya tahan tubuh terhada serangan penyakit sehingga dapat memberikan kepuasan terhadap konsumen.
Perbandingan benih hasil hybrid dan non hybrid dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

A. pecula onyx VS A. ocellaris black  


A. pecula onyx VS A. ocellaris black dapat menghasilkan 90% benih yang berwarna hitam 



  A. pecula onyx  VS  A. pecula onyx   
Benih  A. pecula onyx Vs  A. pecula onyx umur 1 bulan belum muncul warna hitamnya

A. pecula onyx Vs  A. pecula onyx  dapat menghasilkan benih dengan beberapa motif warna serta prosentase yang berbeda dan dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

   A. pecula white 
A. pecula white dapat mencapai 75% dari total benih yang dihasilkan namun harganya  relatif murah sekitar Rp 5.000/ekor

True  pecula
True  pecula  harganya cukup bagus yaitu sekitar Rp 25.000 namun dari total benih yang dihasilkan  hanya sekitar 10%

 Misbar pecula 
 Misbar  pecula  harganya juga cukup bagus yaitu sekitar Rp 25.000 namun dari total benih yang dihasilkan  hanya sekitar 10%

Onyx percula
Onyx percula  harganya sangat bagus yaitu sekitar Rp 50.000 namun dari total benih yang dihasilkan maksimal 5%

Amphiprion pecula onyx VS Amphiprion ocellaris black  dapat menghasilkan prosentase warna hitam yang lebih banyak, selain itu hasil hybrid ini juga menghasilkan benih dengan pertumbuhan dan daya tahan tubuh yang lebih baik.


Tuesday, 18 March 2014

Breeding Clownfish

 Breeding Clownfish
1.   Pemilihan lokasi
Sebelum memulai usaha ada beberapa factor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi antara lain:
a.   Dekat dengan sumber air dan bebas dari bahan pencemaran
b.   Luasan lokasi harus diperhitungkan demi pengembangan usaha
c.    Transportasi harus diperhitungkan baik akses maupun jarak tempuh
d.   Terjangkau oleh PLN
2.   Persiapan sarana dan prasarana
Setelah didapatkan lokasi yang tepat maka persiapan sarana dan perasarana harus disesuaikan dengan kebutuhan produksi
3.   Pemilihan calon induk
Sebelum dijadikan induk sebaiknya diperhitungkan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut:
a.   Jenis
Clownfish terdapat beberapa spesies dan masing-masing spesies mempunyai daya tarik tersendiri akan tetapi dalam memilih calon induk sebaiknya memilih jenis yang laris di pasaran dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
b.   Ukuran
Apabila induk yang digunakan adalah hasil budidaya maka yang dipilih adalah yang terbesar dari generasinya sehingga dapat mewariskan pertumbuhan yang baik terhadap benih yang dihasilkan dan apabila dari hasil  tangkapan alam maka yang dipilih juga sebaiknya yang berukuran besar sehingga selain mempercepat proses produksi  juga dapat menghasilkan telur yang banyak.
c.    Corak dan warna
Salah satu keutamaan clownfish adalah dapat menghasilkan corak dan warna yang unik sehingga dapat memberikan nilai jual yang sangat tinggi oleh karena itu kita harus memilih induk yang mempunyai corak dan warna yang digemari oleh pasar seperti Picasso, platinum, sowflake dan jenis-jenis lainnya yang menarik.
d.   Pertumbuhan
Karena ikan ini memiliki jenis yang cukup banyak dan sulit dijelaskan satu-persatu tentang pertumbuhannya akan tetapi beberapa jenis clownfish memiliki pertumbuhan yang cepat seperti clarki yang dapat mencapai ukuran 5 cm setelah berumur 2 – 3 bulan dan ukuran ini sudah dapat dipasarkan.
4.   Perjodohan
Menurut pengamatan, cara terbaik untuk melakukan perjodohan adalah menempatkan satu pasang ikan kedalam satu wadah/akuarium dengan catatan  memilih induk betina yang lebih besar dan memilih induk jantan sekitar ¾ dari ukuran  betina (ukuran jantan lebih kecil dari betina) kemudian ditempatkan bersama-sama  dalam satu wadah yang sudah dilengkapi selter  yang akan dijadikan sarang dan  sebaiknya dilengkapi dengan anemone yang merupakan habitatnya. apabila tidak  terjadi kecocokan maka salah satu induk diganti. metode ini juga dapat dilakukan  untuk perkawinan silang (hybrid).
5.   Penanganan induk
a. Untuk mempercepat proses kematangan gonad sebaiknya dilakukan pemberian pakan minimal 3 kali sehari dengan pakan yang berkualitas serta diselingi dengan pakan alami seperti artemia dewasa dan cacing renik, dengan pemberian pakan yang baik induk dapat menghasilkan telur yang banyak dan berkualitas.
b.  Setiap hari dilakukan penyiponan kotoran yang ada pada dasar wadah dan penbersihan wadah dari kotoran yang menempel dilakukan seminggu sekali atau sesuai kondisi lingkungan.
c.  Pengontrolon kondisi induk dan pencegahan terhadap serangan penyakit dilakukan dengan cara perendaman air tawar selama 5 – 10 menit dan dilakukan  seminggu atau 2 minggu sekali.
6.   Pemijahan
Pemijahan biasanya terjadi pada siang hari atau sore hari ditandai dengan keagresifan induk membersihkan sarangnya dan tanda yang lain dapat terlihat dari induk betina pada bagian dubur atau saluran telur yang menonjol keluar. Pada saat pemijahan terlihat induk betina menempelkan telurnya dan sesekali menata telur tersebut dan disusul induk jantan melakukan pembuahan. Induk yang baru pertama kali melakukan pemijahan biasanya jumlah telurnya masih sedikit dan akan terus meningkat pada priode pemijahan berikutnya. Untuk satu pasang induk yang produktif dapat melakukan pemijahan 3 kali sebulan dengan jumlah telur yang berpareasi yaitu sekitar ratusan sampai ribuan tergantung jenis, ukuran, pakan dan lingkungan serta kesehatan ikan.
7.   Penetasan telur
Telur biasanya menetas setelah masa pengeraman sekitar 5 atau 8 hari, tergantung jenis ikan, kualitas telur dan lingkungan. Menurut pengamatan yang dilakukan dilapangan, penetasan telur lebih efektif dilakukan dengan cara memindahkan telur beserta induknya ke wadah pemeliharaan larva sehari sebelum menetas dengan menggunakan keranjang yang diberi pelampung dan setelah menetas induk dan selternya dikembalikkan ketempat semula. Metode ini selain mudah dilakukan dapat memberikan HR dan SR yang bagus dimana induk tetap merawat telurnya dan larva dapat beradaptasi langsung dengan lingkungannya.
8.   Padat tebar larva
Karena  SRnya dapat mencapai 70-90% maka padat tebar larva sebainya tidak lebih dari 3 ekor perliter dimana pada saat larva mengalami perubahan warna dari hitam menjadi orange cenderung berkumpul dalam satu tempat sehingga terlihat sangat padat, disamping itu pada masa larva hanya mengandalkan pergantian air untuk menjaga kondisi kualitas air, dengan kepadatan larva yang tinggi  tentunya akan meningkatkan kecepatan penumpukan bahan organic yang dapat merusak kualitas air. Kepadatan dapat ditingkatkan apabila penanganan betul-betul dilakukan secara intensif. Untuk mengatur kepadatan larva maka jumlah telur dan jumlah induk harus disesuaikan dengan volume wadah yang digunakan.
9.   Penanganan larva
Pada tahap awal sebelum telur menetas menjadi larva, sebaiknya diberikan phytoplankton yang berfungsi selain mengatur penetrasi cahaya dalam air juga sebagai makanan rotifer. Setelah telur menetas maka diberikan rotifer (branchionus) dan dipertahankan kepadatannya yaitu sekitar 5 – 10 sel/ml air, pemberian rotifer dapat dilakukan 1 atau 2 kali sehari tergantung kepadatannya dan apabila melebihi dari itu maka dilakukan pergantian air karena kepadatan rotifer yang tinggi dapat merusak kualitas air dalam wada pemeliharaan.setelah larva memasuki umur 7 hari maka diberikan naupli artemia secukupnya namun rotifer tetap diberikan sampai semua larva dapat mengkonsumsi naupli artemia.
10.     Panen benih
a.  Benih dapat dipanen setelah mengalami perubahan warna dari hitam menjadi kemerahan atau sudah menyerupai ikan dewasa dengan lama pemeliharaan sekitar 12 hari
b.  Pemanenan harus dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan serok lalu diangkat dengan gayung bersama air dan ditampung diember yang diberi aerasi dengan tekanan rendah, setelah cukup padat kemudian dipindahkan ke  wadah pendederan. Benih yang diangkat tanpa bersama dengan air terkadang stress dan pingsan jadi sebaiknya benih tidah terlepas dari air.
11.     Penanganan benih di aquarium
a.    Padat tebar disesuaikan dengan kapasitas aquarium dan sistim sirkulasi airnya, padat tebar untuk sirkulasi air 24 jam dapat mencapai 3 sampai 12 ekor/liter air. kepadatan disesuaikan dengan ukuran benih.
b.    Pemberian pakan dilakukan 4 sampai 6 kali dengan jenis pakan yaitu pellet dan naupli artemia untuk benih yang berukuran lebih kecil dari 1 cm, kemudian selanjutnya dapat diberikan pellet sepenuhnya setelah melebihi dari ukuran itu. Ukuran pellet yang diberikan disesuaikan dengan bukaan mulut benih.
c. Pengelolaan kualitas air dan lingkungan dilakukan dengan cara membersihkan kotoran yang ada di dasar akuarium dengan menggunakan alat sipon atau selang serta melap kotoran yang menempel di dinding aquarium. Seminggu sekali dilakukan pencucian aquarium jika dianggap perlu.
d.  Grading dilakukan dengan tujuan untuk mengelompokkan benih yang berukuran sama sehingga tidak terjadi persaingan. Dengan mengelompokkan benih yang berukuran sama dalm satu wadah sangat membantu dalam pemberian pakan khususnya ukuran pakan dapat disesuai dengan bukaan mulut ikan.
e.   Penanggulangan penyakit dilakukan setiap satu atau dua minggu sekali dengan cara merendam benih ke dalam air tawar selama 5 sampai 10 menit dengan ukuran benih minimal 2 cm. tujuan dari perendaman ini adalah untuk melepaskan bibit-bibit parasite yang ada pada tubuh ikan.
f.   Pengobatan pada ikan yang sakit dengan menggunakan obat yang sesuai dengan jenis penyakitnya misalnya penyakit akibat bakteri maka diberikan antibiotic dan apabila parasite maka cukup menggunakan air tawar, akan tetapi waktu perendamannya harus disesuaikan dengan kemampuan ikan karena biasanya ikan yang sudah terlalu parah penyakitnya tidak begitu tahan terhadap air tawar oleh karena itu walaupun sebentar tapi dapat dilakukan 2 kali sehari. Sebaiknya ikan sakit dipisahkan di tempat tersendiri untuk mencegah penularan yang berkelanjutan. Ciri-ciri ikan clownfish yang sakit dapat dilihat dari pergerakannya yang kurang agresif, warnanya kusam, terdapat luka atau benjolan pada tubuh, bintik putih pada insang dan kotorannya berwarna putih.
12.     Panen/penjualan

 Panen untuk ikan hias nemo/clownfish dapat dilakukan setelah berukuran minimal  3,5 cm atau tergantung permintaan pasar dan ini dapat dicapai setelah  pemeliharaan 3 sampai 4 bulan. Harga untuk ikan ini berpareasi sesuai jenis dan  coraknya yaitu mulai dari Rp 3.500 sampai jutaan rupiah.



Platinum

Black Onyx
Picasso

Monday, 23 December 2013

PERKEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS LAUT


PERKEMBANGAN BUDIDAYA  IKAN HIAS LAUT

Prospek Pasar
              Ikan hias indonesia memiliki prospek pasar yang berkembang pesat. Menurut keterangan kementerian kelautan dan perikanan, pada tahun 2012 lalu nilai ekspornya mencapai 600 milyar rupiah. angka ini menempatkan Indonesia ke dalam lima besar negara-negara pengekspor ikan hias, di bawah Ceko, Thailand, Jepang dan Singapura. khusus untuk Singapura, sebagian besar ikan hias asal negeri ini dipasok dari Indonesia.
              Sebagai negara yang memiliki keaneka ragaman hayati tertinggi di dunia setelah Brasil, Indonesia memiliki banyak jenis spesies ikan hias. Sumber ikan hias ini berasal dari perairan laut dan perairan darat. Hingga saat ini di Indonesia terdapat 700 spesies ikan hias air laut, hanya saja yang bisa diindentifikasi baru sekitar 480 spesies, dan 200 diantaranya sudah diperdagangkan. Pangsa pasarnya secara global mencapi 20 persen. Dari jumlah itu 95 persen masih ditangkap dari alam dan hanya 5 persen yang dapat dibudidayakan.
Target produksi ikan hias yang cukup besar ini dilandasi atas potensi sumber daya ikan hias Indonesia, dengan 400 spesies ikan air tawar dari 1.100 spesies yang ada di dunia berada di Perairan Indonesia atau sebesar 40%. Selain itu, jumlah ikan hias air laut yang berjumlah 650 spesies atau sebesar 30% sedangkan yang baru diperdagangkan sekitar 200 spesies.
Namun dengan potensi hasil kekayaan alam tersebut jika tidak dimamfaatkan secara benar dan tidak dibarengi dengan kegiatan budidaya maka lambat laun kekayaan tersebut akan menjadi rusak. Jika dilihat dari potensi tersebut apabila ditangani secara serius antara pemerintah dan seluruh stakeholder ikan hias yang ada di Indonesia maka Indonesi dapat menjadi eksportir terbesar di Dunia mengungguli Singapura

Respon BBL Ambon Terhadap Ikan Hias Laut
Permintaan pasar akan ikan hias air laut semakin tinggi. Di pangsa pasar lokal saja setiap tahun mengalami pertumbuhan signifikan. Belum lagi permintaan pasar nasional dan internasional.
Kepala Balai Budidaya Laut Ambon Nono Hartanto, M.Aq dalam rilisnya mengatakan,  peluang ekspor ikan-ikan hias itu ke berbagai negara terus meningkat dari tahun ke tahun. Diperkirakan permintaan ikan hias air laut di seluruh dunia pun akan terus semakin meningkat beberapa tahun ke depan.
Kondisi ini dapat dibuktikan di Balai Budidaya Laut Ambon (BBL Ambon). Dimana saat ini permintaan ikan hias dari pengusaha di berbagai daerah seperti Lampung, Bali, Surabaya dan Jakarta terus mengalami peningkatan. Bahkan saat ini permintan di BBL Ambon dapat mencapai angka 20.000 ekor perbulannya.
Hal ini, diakui Nono Hartanto, merupakan peluang dan tantangan mengingat untuk memenuhi permintaan sebesar itu BBL Ambon mengalami keterbatasan sarana produksi. Namun begitu, untuk mengatasi masalah kurangnya stock ikan hias laut tersebut BBL Ambon melakukan perekayasan teknologi budidaya ikan hias laut di Keramba Jaring Apung (KJA).
Hasil perekayasan tersebut menunjukan bahwa ikan hias laut dapat dibudidayakan di KJA. Berdasarkan hasil perekayasan tersebut BBL Ambon membudidayakan ikan hias laut.  Sebagaimana diketahui, masyarakat pembudidaya ini awalnya membudidayakan ikan konsumsi seperti, kerapu dan bubara di KJA milik mereka. Hasil survey BBL Ambon pada KJA milik masyarakat pembudidaya menunjukan, bahwa diantara KJA ini ada unit yang masih kosong atau tidak digunakan. KJA kosong inilah yang digunakan untuk membudidayakan ikan hias laut.
Sampai saat ini, paparnya, masyarakat pembudidaya ikan yang telah di gandeng oleh BBL Ambon adalah pembudidaya Desa Waiheru dan BP3 Poka. Beberapa ikan hias laut yang dapat dibudidayakan dan berkembang sangat baik di KJA adalah Capungan Ambon/Banggai Cardinalfish (Pterapogon kaudernii), Betok Ambon (Chrysiptera cyanea), Betok Ambon Kuning (Pomancentrus ambonensis), Clownfish (Amphiprion ocellaris), Clownfish Biak (Amphiprion percula), Giro pasir (Amphirprion clarki), Maroon Clownfish (Premnas biaculeatus), Clown fish pink (Amphiprion periderion) dan Orange anemonfish (Amphiprion sandaracinos).
Diharapkan dengan adanya keikutsertaan masyarakat pembudidaya ini, mendorong mempercepat konversi pemenuhan kebutuhan ikan hias nasional dari ketergantungan terhadap pasokan ikan hias laut hasil tangkapan di alam beralih ke pasokan ikan hias laut dari hasil budidaya masyarakat.
Selain itu, dengan adanya teknologi budidaya ikan hias laut di KJA ini diharapkan dapat menciptakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mempertahankan plasma nutfah perairan Teluk Ambon Dalam dan mendukung perairan Teluk Ambon Dalam sebagai sentral pengembangan ikan laut di Kota Ambon serta mendukung Maluku sebagai lumbung ikan nasional..

Sunday, 13 October 2013

Sekilas Foto Budidaya Ikan Hias Clownfish

SARANA BUDIDAYA CLOWNFISH










Keterangan: Foto kondisi kegiatan budidaya ikan hias laut Pada Balai Budidaya Laut Ambon

Monday, 29 July 2013

BREEDING UDANG BANDED CORAL (Stenopus hispidus) DAN MANDARINFISH (Synchiropus splendidus) DENGAN SISTIM POLIKULTUR


BREEDING UDANG BANDED CORAL (Stenopus hispidus) DAN MANDARINFISH (Synchiropus splendidus) DENGAN SISTIM POLIKULTUR

Udang banded coral (Stenopus hispidus) bagian dari  salah satu tiga keluarga yang berkaitan dengan ikan pembersih. Mereka dapat ditemukan di perairan dangkal tropis Indo-Pasifik dan Atlantik Barat. S. hispidus adalah udang hias yang sangat penting dalam perdagangan ikan hias karena warnanya yang indah dan pemeliharaannyapun cukup mudah di akuarium. Udang ini ditemukan hidup berpasangan di laut. Perkawinan berlangsung pada saat betina  mengalami  fase molting. Tidak ada predator alami dari udang banded coral yang diamati memangsa udang ini. Koleksi dari S. hispidus membuat sebagian besar perdagangan di seluruh dunia hias laut yang menjadikan lebih dari 200 juta dolar per tahun (Shuman et.al 2004).

Klasifikasi
Filum: Arthopoda 
Kelas: Crustacea 
Subclass: Malacostraca 
Ordo: Decapoda 
Keluarga: Stenopodidae 

Habitat 
           
Stenopus hispidus ditemukan di seluruh wilayah Indo-Pasifik dari Laut Merah dan Afrika Selatan ke Hawaii dan Kepulauan Tuamotu (Limbaugh et. Al 1961). Meskipun tidak ditemukan di Atlantik timur, S. hispidus dapat ditemukan di perairan tropis di Atlantik barat dari Bermuda dan di lepas pantai Carolina Utara ke teluk Meksiko dan selatan Florida (Zhang et. al, 1998). 

Ekologi 
Tiga keluarga kecil dari udang berwarna cerah yang telah diamati untuk menghilangkan parasite adalah stenopodidea, penaeidea, dan caridea (Limbaugh et. Al 1961). Keluarga stenopodidea terdiri dari Stenopus hispidus yang merupakan yang terbesar dari udang yang dikenal pembersih,  mencapai panjang lebih dari 7,5 sentimeter dengan betina kadang-kadang lebih besar dari jantan (Limbaugh et. Al 1961). Udang ini memiliki beberapa nama-nama umum seperti udang galah tukang cukur, udang karang banded dan udang pembersih. Mereka memiliki tubuh putih dengan 3 band merah yang luas didukung oleh kaki kebiruan panjang dan chelipeds merah dan putih ramping atau cakar (Sterrer 1986). Untuk bergerak, S. hispidus dilengkapi dengan 4 kaki berjalan disebut periopods dan swimmerets untuk berenang terletak di bawah perut (Limbaugh et. al 1961). 

Penanganan Induk
                Udang banded coral (Stenopus hispidus) dipelihara di dalam bak fiber bervolume 2 ton bersama dengan induk ikan hias mandarinfish dengan tujuan untuk membantu membersihkan parasite yang ada pada ikan tersebut dan selama pemeliharaan belum pernah ditemukan serangan parasite yang serius pada induk mandarinfish, dengan adanya Udang banded coral dapat membantu membersihkan sisa-sisa pakan yang tidak termakan oleh induk mandarinfish. Dalam pemeliharaan tersebut ditemukan adanya kecocokan dalam pemeliharaan yang saling menguntungkan dan tidak dapat dijelaskan satu persatu.

Pakan dan Pemberian Pakan
                Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi hari sekitar jam 09.00 dan siang hari yaitu sekitar jam 16.00, pakan tersebut berupa artemia dewasa, cacing renik dan pakan pellet (pakan buatan). Ukuran pakan tentunya disesuaikan dengan bukaan mulut induk mandarinfish bukan disesuaikan dengan bukaan mulut udang tersebut dimana udang ini mampu memakan pakan yang berukuran besar dengan menggunakan capitnya. Dosis pakan yang diberikan disesuaikan dengan jumlah komoditas yang ada artinya sebaiknya pakan tersebut habis sebelum pemberian pakan berikutnya agar tidak menyebabkan pembusukan terutama pakan pellet.

Pemijahan
               Pemijahan dilakukan secara alami tanpa adanya bantuan hormone, Udang banded coral (Stenopus hispidus) memijah sepanjang tahun dengan selang waktu pemijahan 2 minggu sekali. Penetasan telut dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menetaskan langsung di wadah pemeliharaan induk atau dengan memindahkan induk setelah siap menetas ke wadah pemeliharaan larva dengan menggunakan keranjang yang diberi pelampung.

Pemeliharaan Larva
            Pemeliharaan larva dilakukan pada wadah yang bervolume 3 ton dengan pemberian pakan 2 kali sehari, pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan adalah rotifer dan beberapa minggu kemudian diberikan naupli artemia. Dalam wadah tersebut dilengkapi aerasi untuk mensuplai oksigen kedalam air dan pada bagian atas wadah diberi plastic penutup  dengan tujuan untuk menjaga kestabilan suhu, sebaiknya plastic tersebut tembus cahaya.

Keberhasilan
            Pada pemeliharaan larva sebelumnya, larva hanya dapat bertahan sekitar 20 hari dan pemeliharaan larva selanjutnya sudah dapat bertahan sekitar 35 hari. Dalam pemeliharaan larva ditemukan ditemukan pertumbuhan yang sangat lambat yaitu baru berukuran sekitar 1 cm dan belum mempunyai warna kecuali pada bagian ekor dan kepala. Penelitian ini akan terus dikaji sampai mendapatkan hasil yang maksimal.



Friday, 28 June 2013

Jurnal: EFEKTIFITAS PEMIJAHAN IKAN BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea)


Suharno, Abdul Gani dan Akhmad Sururi

ABSTRAK
Pemanfaatan sumberdaya ikan hias air laut, saat ini cenderung meningkat dan penangkapannya dilakukan dengan cara-cara tidak ramah lingkungan dan dilakukan secara terus –menerus dan tidak terkontrol. Kajian  bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan rasio jantan betina yang berbeda terhadap tingkat pembuahan dan tingkat penetasan ikan blue devil (Chrysiptera cyanea ).
Metode  yang dilakukan bersifat eksperimen, yang dipelihara pada 3 bak kapasitas 2m3,  Bak I  dengan perbandingan 1 : 1 (12 jantan : 12 Betina) untuk Bak II perbandingan 1 : 2  (12 Jantan : 24 Betina)  dan untuk Bak III perbandingan 1 : 3 (12 Jantan : 36 Betina). Kajian dilakukan selama 3 bulan di indoor hachery Balai Budidaya Laut Ambon
Pengamatan dilakukan  dengan cara mengamati frekwensi pemijahan, tingkat pembuahan dan derajat penetasan ikan  hias Blue Devil (Chrysiptera cyanea), Induk diberi pakan pelet sebanyak 2-3% dari berat tubuh (BW) dengan frekwensi 2 kali sehari, pagi dan sore hari serta diberi pakan alami berupa Artemia dewasa yang telah di perkaya dengan multivitamin dua hari sekali. Uji chi-square memperlihatkan tingkat pembuahan pada  ketiga perlakuan menunjukkan bahwa  X2 hitung (0,071) <  X2  tabel (18.31)  pada taraf α = 0,05. dengan demikian hipotesis awal (H0) perbedaan rasio jantan betina terhadap derajat pembuahan diterima dan menolak hipotesis akhir. Selanjutnya Uji Chi-Square yang dilakukan terhadap derajat penetasan pada  ketiga perlakuan menunjukkan bahwa X² Hitung =23,32  α=0,05  X² table = 18,31, Kesimpulan X² Hitung  > X² table. Dengan demikian Rasio jantan betina yang berbeda tidak berpengaruh tehadap tingkat pembuahan tetapi berpengaruh siqnifikan terhadap tingkat penetasan ikan blue devil  (Chrysiptera cyanea).
Kata Kunci : Ikan Blue Devil, Rasio Jantan : Betina

Abstract : Spawning Effectiveness of Blue Devil (Chrysiptera cyanea) With Comparison of  Different Male and Female Couple.
The utilization of fisheries resources, especially fish, as this tends toexploitnatural resources in way sthat are not environmentally friendly. And conditions change or polluted waters, willlead to lowerfish populationsin the wild. In order to realize sustainability of fishing industry, needs to do a trial effort in spawning Blue Devil (Chrysiptera cyanea ) with a different number of pairs.
Experimental method used, which is maintained at 3 2m3 capacity of tank, Tank I in the ratio 1: 1 (12 males: 12 females) for Tank II ratio of 1: 2 (12 males: 24 females) and for Tank III ratio 1: 3 (12 males: 36 females). The study was conducted for 3 months in indoor hachery of Ambon Mariculture Development Center.
Observations made by observing the frequency of spawning, fertilization rate and hatching of Blue Devil (Chrysiptera cyanea). The broodstock given feed of pellets as much as 2-3% of body weight (BW) with a frequency of 2 times a day, morning and afternoon, and were fed live feed of adult Artemia has been enriched with a multivitamin every other day. Chi-square test showed conception rate in the three treatments showed that the X2 count (0.071) < X2 table (18:31) at level α = 0.05. Thus the initial hypothesis (H0) differences in the ratio of females to males accepted and rejected conception degree final hypothesis. Furthermore, Chi-Square test were conducted on the third hatching treatment showed that X ² count = 23.32  α = 0.05 X ² table = 18.31, The conclusion is X² count > X ² table. Thus the male female ratio is different does not affect fertilization rate but significant effect on the level of blue devil fish hatchery (Chrysiptera cyanea).

Keywords : Blue Devil, The Ratio Of Male: Female

 

I. PENDAHULUA
     Setiap makhluk hidup melakukan perkawinan untuk menjaga kelestarian spesiesnya. Pada organisme aquatik proses perkawinan ini sering disebut memijah, Proses pemijahan dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu courtship, proses mating dan spawning. Dalam melakukan pemijahan selain lingkungan yang mendukung salah satu syarat utama adalah induk harus  matang gonad, tingkat kematangan gonad setiap individu berbeda–beda tergantung dari jenis  dan  jenis kelamin dari organisme tersebut.
     Pengelolaan dan  pemanfaatan ikan hias perlu dilakukan, mengingat asosiasi ikan karang dan terumbu karang sangat erat, sehingga eksistensi ikan karang di suatu wilayah terumbu karang sangat rapuh ketika terjadi pengrusakan habitatnya (Hartati dan Idrus 2005). Pada bagian lain pemanfaatannya terus berkembang sehingga dapat mengancam keberadaan dan keanekaragaman spesies sumberdaya ikan hias.
     Allen, (1996) dan Kuiter, (1992). dalam La Anadi, (1998). Menyatakan  spesies blue devil atau Betok Ambon (Chrysiptera cyanea)  termasuk Famili Pomacentridae atau kelompok damselfish yang hidup menyebar pada habitat terumbu karang, dimana tingkah laku semua jenis ikan dari famili Pomacentridae dapat menjadi agresif terhadap tempat atau lokasi dimana mereka tinggal dan sangat sensitif terhadap gangguan yang membahayakan dirinya. Menurut Allen, (1972) dalam La Anadi, (1998), ikan blue devil mempunyai daerah kekuasaan (territorial) dan berusaha mempertahankan daerah kekuasaannya dengan segala kemampuan sehingga sering tejadi perkelahian diantara ikan  blue devil sendiri. Ciri lain  dari ikan family Pomacentridae ini dalam melakukan perkawinan melalui beberapa tahapan, yaitu courtship, proses mating, dan spawning. Induk jantan sangat protektif dalam melakukan penjagaan terhadap telur yang telah dibuahi selama lebih kurang 4 hari masa inkubasi sampai telur menetas.
     Maksud  dan tujuan dilakukannya kajian ini adalah untuk menganalisa perbedaan jumlah rasio jantan : betina terhadap tingkat pembuahan dan penetasan larva ikan blue devil  (Chrysiptera cyanea). Sehingga diharapkan kajian ini dapat memberikan informasi sebagai  bahan pertimbangan dalam pengelolaan dan  pemeliharaan  induk  ikan blue devil  (Chrysiptera cyanea), dengan rasio jantan betina yang berbeda, serta mengetahui tingkat produktifitas selama musim pemijahan.

II. MATERIAL DAN METODE

2.1 Waktu dan Tempat
     Uji coba,  dilakukan di Indoor Hatchery Balai Budidaya Laut Ambon, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kegiatan  ini  dilaksanakan pada bulan Pebruari sampai April 2012.

2.2 Alat dan Bahan
     Berbagai bahan dan alat yang akan  digunakan untuk mendukung kegiatan penelitian Perbedaan Jumlah Rasio Jantan : Betina  terhadap tingkat  pembuahan dan penetasan ikan Blue Devil (Chrysiptera cyanea) seperti tetera pada Tabel 1. dan Tabel 2.

   Tabel 1. Daftar  peralatan yang  digunakan dalam uji coba
No
Alat
Spesifikasi
Kegunaan
1
Bak pemijahan
Fiber , vol 2m³
Wadah pemeliharaan induk
2
Peralatan
(batu aerasi,kran, selang aerasi
Suplai oksigen
3
Baskom plastik
30 liter
Wadah pengukuran induk
4
Filter Bag
500 mikron
Penyaring air
5
Serokan /tanggo
 
Untuk menangkap sampel induk
6
Mikroskop
Olympus
model HC-2
Pengamatan telur ,untuk melihat perkembangan  larva
7
Mikrometer
 
Untuk mengukur besar telur dan yolk eggs,oil globule . dll
8
Alat ukur kualitas air
YSI , Termometer digital ,
ukur kualitas air, Suhu,pH,Do ,Salinitas.
9
Kamera digital
 
Untuk mengambil gambar

     Tabel 2. Daftar Bahan yang digunakan
No
Bahan
Spesifikasi
Keterengan
1
Induk Ikan (108 individu)
Blue Devil C. cyanea
Bahan Uji
2
Telur Ikan
Blue Devil C. cyanea
Bahan Uji
3
Telur Hasil Fertilisasi
Blue Devil C. cyanea
Bahan Pengamatan
3
Pakan Buatan
Pelet
Diberikan 2 kali  sehari
4
Pakan hidup
Artemia dewasa
2 Hari sekali
5
Multivitamin
Scotemulsion,
Bahan pengkaya
6
Kaporit
Bahan aktif 60%
Sterilisasai alat
7
Antibiotik
Vircon Aquatic
Mengeliminir bakteri dalam bak induk
8
Formalin
4%
Mengawetkan sampel telur
9
Aquades
 
Untuk Kalibrasi Alat ukur 
10
Tissu roll
 
Untuk mengeringkan alat

2.3. Metode Kerja
     Kajian  yang dilakukan bersifat eksperimen, dimana induk ikan hias Blue Devil (Chrysiptera cyanea) sebagai objek penelitian, di ukur panjang dan berat dan selanjutnya dipilah secara acak untuk  dipasangkan dengan rasio jantan betina yang berbeda, pada bak pemijahan yang telah disiapkan berupa bak fiber dengan kapasitas 2 ton atau 2 m3. Selanjutnya pengamatan dilakukan  dengan cara mengamati frekuensi pemijahan, tingkat pembuahan dan derajat penetasan ikan  hias Blue Devil (Chrysiptera cyanea), Rangkaian prosedur penelitian dirinci sebagai berikut:

  • Ikan  hias Blue Devil (Chrysiptera cyanea), yang dipelihara dengan jumlah rasio Jantan : Betina yang berbeda,  yaitu 1 : 1 , 1 : 2  dan 1 : 3  selama 3 bulan.
  • Wadah pemeliharaaan induk ikan blue devil (Chrysiptera cyanea)  dengan menggunakan  bak fiber dengan kapasitas 2 m³ atau 2 ton   sebanyak tiga buah (3 buah) dengan sistem air mengalir sedang.
  • Induk diperoleh dari Desa Liang, Kabupaten Maluku Tengah yang telah di pelihara (Domestikasi) selama 2 bulan dengan ukuran 4,5-7,5 cm sebanyak 108 individu.

  1. Masing – masing bak di isi induk ikan blue devil (Chrysiptera cyanea)  sebanyak,  untuk Bak I  dengan perbandingan 1 : 1 (12 jantan : 12 Betina) untuk Bak II perbandingan 1 : 2  (12 Jantan : 24 Betina)  dan untuk Bak III perbandingan 1 : 3 (12 Jantan : 36 Betina).
  2.  
  3. Masing – masing induk ikan blue devil (Chrysiptera cyanea)  diberi pakan pelet sebanyak 2-3% dari berat tubuh (BW) dengan frekwensi 2 kali sehari, pagi dan sore hari serta diberi pakan alami berupa Artemia dewasa yang telah di perkaya dengan multivitamin dua hari sekali.
  4.  
  5. Shelter atau sarang tempat penempelan telur dipasang pada bak pemijahan masing –masing bak 7 shelter (shelter dari paralon ukuran 2  inchi, dan dilapisi plastik transparant dan bergaris).
  6.  
  7. Pengamatan dilakukan setiap hari bila terjadi pemijahan, meliputi jumlah telur, ukuran, derajad pembuahan dan selanjutnya jumlah telur menetas. 
 

2.4. Metode Pengumpulan Data
     Pengambilan sampel dilakukan setelah terjadi pemijahan dengan mengambil sarang (shelter) yang telah ditempeli telur  pada masing-masing wadah kultur secara acak sederhana. Sampel diambil  dari bak pemijahan setiap hari selama terjadi pemijahan, untuk mengamati tingkat  pembuahan dan jumlah telur menggunakan mikroskop dan hand counter, kemudian dihitung jumlah telur dan tingkat pembuahan.  Selanjutnya,  Fertilitas  telur dihitung dengan cara membandingkan telur yang dibuahi dengan jumlah telur seluruhnya, kemudian dikembalikan lagi ke bak pemijahan untuk diasuh oleh induknya. Telur dibiarkan dalam pengasuhan induk sampai menjelang penetasan atau  hari ke empat masa inkubasi selanjutnya sampel telur dicuplik dari sarang 12 jam, menjelang menetas untuk selanjutnya ditetaskan pada aquarium yang telah dipersiapkan untuk melihat derajat penetasan.
2.5. Metode Analisis Data
                Untuk melihat pengaruh perbedaan jumlah rasio Jantan : Betina  terhadap  derajat pembuahan dan penetasan maka digunakan  uji Chi-Square, dimana menurut Khow. 2009  uji ini lazim digunakan  pada uji non-parametrik  yaitu membandingkan nilai harapan hitung  (E) dan nilai pengamatan  (O) dengan asumsi bahwa proporsi setiap kelompok pengamatan adalah sama.
 
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Tingkat  Pembuahan (Fertilisasi)
     Pembuahan atau fertilisasi merupakan asosiasi gamet, dimana asosiasi ini merupakan mata rantai awal dan sangat penting pada proses fertilisasi. Rasio pembuahan sering digunakan sebagai parameter untuk mendeteksi kualitas telur. Penggabungan gamet biasanya disertai dengan pengaktifan telur. Selama fertilisasi dan pengaktifan, telur-telur ikan teleostei mengalami reaksi kortikal. Kortikal alveoli melebur, melepaskan cairan koloids, dan selanjutnya memulai pembentukan ruang periviteline. Kjorsvik et al, (1990) dalam Utiah, (2006). Kortikal alveoli muncul setelah terjadinya fertilisasi dan reaksi kortikal yang tidak lengkap menunjukkan kualitas telur yang jelek. Beberapa hal yang mempengaruhi pembuahan adalah berat telur ketika terjadi pembengkakan oleh air, pH cairan ovari, dan konsentrasi protein (Lahnsteiner et al., 2001).
     Fertilisasai adalah peleburan dua gamet yang berupa nukleus atau sel-sel bernukleus untuk membetuk sel tunggal (zigot) atau peleburan nukleus. Biasanya  melibatkan  penggabungan  sitoplasma  (plasmogami) dan penyatuan bahan nukleus (kariogami). Dengan meiosis, zigot itu membentuk ciri fundamental dari kebanyakan siklus seksual eukariota, dan pada dasarnya gamet- gamet yang melebur adalah haploid. Bilamana keduanya motil maka fertilisasi itu disebut isogami, bilamana berbeda dalam ukuran tetapi serupa dalam bentuk maka disebut anisogami,  bila satu tidak motil (dan biasanya lebih besar) dinamkan oogami (Huttner, 1980) 
     Pemijahan Induk Blue Devil (C. cyanea) dilakukan secara alami, pembuahan dilakukan diluar tubuh,. Induk betina yang akan memijah mempunyai ciri-ciri perut buncit dan genital papilanya menonjol, sedangkan yang jantan agresif bergerak mengejar betina. Induk Blue Devil  mulai membersihkan sarang  (Selter Paralon) untuk menempelkan telurnya. Proses pembersihan substrat dilakukan dengan cara menggerakkan badan mereka seolah-olah seperti sapu. Proses ini dilakukan agar substrat benar-benar bersih. Proses pemijahan biasanya berlasung sore  antara pukul 18.30- 20.00  dan pagi hari antara pukul 04.00-05.00. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan sepasang induk dapat memijah secara terus-menerus dengan selang waktu 4-5 hari sekali. Induk blue devil (Chrysiptera cyanea) memelihara telurnya selama 4 hari dan telur menetas pada hari ke 4 Sore yaitu antara pukul 19.00 – 19.30. Jumlah telur yang dihasilkan bervariasi antara 900-3.500 butir. Telur yang telah ditempelkan pada substrat akan dipelihara atau dijaga oleh induk jantan setiap saat keluar masuk sarang untuk menghalau ikan yang lain yang mencoba mendekati sarang dan membersihkan telur dari jamur dan parasit.
     Telur yang terbuahi  pada hari I berwarna putih,  pada hari ke II berwarna putih krem, hari ke III warna krem lebih dominan seiring dengan perkembangan embrio, dan pada hari ke IV telur berwarna krem dengan tanda hitam. Warna hitam tersebut diakibatkan pada embrio sudah terbentuk kromatopore sempurna pada mata, badan maupun ekor, sedangkan yang tidak terbuahi berwarna putih.
     Hasil perhitungan jumlah rata-rata telur pada setiap sarang selama 6 kali pemijahan terhadap ketiga perlakuan  disajikan pada Tabel 3. Rata-rata jumlah telur pada setiap sarang pada perlakuan Rasio jantan betina 1:1 adalah   1953±44,83 butir, dengan rata-rata telur fertile 1950±44,83 butir dan persen telur fertile 99,90%.  Untuk perlakuan Rasio Jantan : Betina 1:2.  adalah   2368±53,61 butir, dengan rata-rata telur fertile 2365±53,61  dan persen telur fertile 99,89%, Perlakuan Rasio Jantan Betina 1:3 adalah  rata-rata jumlah telur 1580±50,63 butir dan rata-rata telur fertile 1578 ±50,63 butir dengan persen telur fertile 99.95% . Dari ketiga perlakuan, capaian persen tingkat  pembuahan sangat tinggi, yaitu diatas 99%.
                Tabel 3. Jumlah sarang (shelter) efektif  yang ada telurnya/periode pemijahan

Periode Pemijahan
Perlakuan
Rasio   1 : 1
Rasio  1 : 2
Rasio 1 : 3
Jumlah Sarang
Jumlah Sarang
Jumlah sarang
1
2
4
3
2
2
5
6
3
3
6
5
4
4
3
4
5
3
4
7
6
2
4
7
Jumlah
16
26
32
Tabel 4. Rata-Rata Jumlah Telur Selama Periode Pemijahan Pada Pada Sarang Buatan (shelter)
               Untuk Ketiga Perlakuan.

Periode
Pemijahan
Perlakuan
Rasio 1 : 1
Rasio 1 : 2
Rasio 1 :3
Jumlah Telur
Jumlah Telur Fertil
% Telur Fertil
Jumlah Telur
Jumlah Telur Fertil
% Telur Fertil
Jumlah Telur
Jumlah Telur Fertil
% Telur Fertil
1
2519±62,18
2519
100
2849±44,67
2842
99.75
1486±60,28
1486
100
2
1816±61,72
1811
99.72
2681±45,65
2681
100
1386±42,36
1386
100
3
2054±57,02
2053
99.95
2426±15,88
2425
99.96
2107±40,04
2104
99.90
4
3066±63,40
3058
99.74
2997±83,50
2992
99.83
1746±56,61
1744
99,88
5
1043±23,51
1043
100
2157±63,51
2155
99.91
1378±58,51
1378
100
6
1218±53,81
1218
100
1722±16,09
1721
99.94
1374±44,99
1371
99.92
Rata-rata
1953
1950
99,90
2472
2469
99,89
1580
1578
99,95
     Berdasarkan Uji chi-square yang dilakukan terhadap tingkat pembuahan pada  ketiga perlakuan menunjukkan bahwa  X2 hitung = (0,071) <  X2   tabel (18.31) db=(k-1)     (r-1)=10 α=0,05. Dengan demikian hipotesis awal (H0) perbedaan rasio jantan betina terhadap tingkat pembuahan diterima dan menolak hipotesis akhir  (H1), yaitu perbedaan rasio jantan : betina berpengaruh terhadap tingkat pebuahan. Hal ini disebabkan jenis ikan blue devil  mempunyai kebiasaan berpasangan dalam melakukan pemijahan secara alami, walaupun dalam satu bak terkontrol terdapat 2-7 pasang yang memijah pada saat yang hampir bersamaan sehingga sasaran pembuahan yaitu telur dilakukan sesaat betina mengeluarkan telur diikuti jantan menegeluarkan spermatozoa, tepat sasaran tepat waktu, sehingga motilitas spermatozoa untuk sampai sasaran memebutuhkan waktu yang singkat.  Menurut Hora dan Pillay (1962), dalam Partodiharjo, (1990), ukuran spermatozoa pada ikan teleostei berkisar 40-60 µm, dengan produksi spermatozoa yang cukup tinggi dan rata-rata volume milt yang dihasilkan ±0,5 ml dengan jumlah spermatozoa 3,33×1011, jumlah spermatozoa yang banyak tentu sangat berpengaruh terhadap tingkat penetasan.
3.2 Tingkat  Penetasan
     Data pengamatan terhadap tingkat penetasan (Hatching Rate) dari ketiga perlakuan menunjukkan tingkat penetasan yang sangat baik yaitu pada tingkat diatas 93%, yang ditunjukkan pada tabel 4, dan bisa  lebih tinggi hingga mencapai 100% jika proses pengasuhan selama masa inkubasi dilakukan oleh induknya. Karena sifat ikan blue devil merupakan ikan yang melakukan pengasuhan (parental care), sehingga mempunyai sintasan yang tinggi.
 
Tabel 5.    Persentase Jumlah Telur Menetas (Hatching Rate)/Periode Pemijahan Terhadap Ketiga perlakuan

Periode
Pemijahan
Perlakuan
Rasio 1 : 1
Rasio 1 : 2
Rasio 1 :3
Telur fertile ditetaskan
Jumlah Telur menetas
% Telur hatching
Telur fertile ditetaskan
Jumlah Telur menetas
% Telur menetas
Telur fertile
ditetaskan
Jumlah Telur menetas
% Telur menetas
 
1
245
238
97.14
308
287
93,18
263
258
98,09
2
231
221
95.67
312
302
96,79
305
297
97.38
3
142
132
92.96
361
342
94,74
460
433
94,13
4
195
189
96.92
371
354
95,42
164
157
95.73
5
202
190
94.06
160
145
90,63
296
292
98.65
6
164
164
100
210
194
92,38
333
268
80.48
Rata-rata
196
189
96,13
287
271
93,86
303
284
94,08
     Berdasarkan Uji Chi-Square yang dilakukan terhadap tigkat penetasan pada  ketiga perlakuan menunjukkan bahwa X² Hitung = 23,32  db = (k-1)(r-1) =10    α=0,05     X² table = 18.31 Kesimpulan : X² Hitung  > X² table , sehingga Tolak  Hipotesa Nol (H0), artinya ada perbedaan yang signifikan jumlah rasio jantan betina terhadap tingkat penetasan telur. Walaupun hasil penetasan untuk ketiga perlakuan memberikan hasil yang sangat baik yaitu diatas 93%. Tingkat perbedaan hasil penetasan untuk ketiga perlakuan tersebut diduga diakibatkan oleh adanya parasit dan jamur yang menyerang embrio selama masa inkubasi berlangsung, Keberadaan jasad renik pengganggu di wadah  penetasan  berupa parasit dan kuman – kuman penyakit. Mereka inilah yang dapat membuat kondisi telur ikan menjadi rusak dan embrio telur menjadi mati, meskipun tempat penetasan telur dilakukan pada tempat yang sama sehingga parameter kualitas media penetasan berada pada kondisi yang sama dan  telur yang ditetaskan merupakan telur yang telah di inkubasi oleh induk selama 3 hari pada media penetasan ± 12 jam sebelum telur menetas. Sehingga perkembangan embrio secara internal cukup sempurna untuk dapat menetas dengan baik.
 
 IV. KESIMPULAN DAN SARAN
     Berdasarkan hasil analisa  yang diperoleh maka dirumuskan kesimpulan bahwa rasio jantan betina yang berbeda tidak berpengaruh tehadap tingkat pembuahan tetapi berpengaruh signifikan terhadap tingkat penetasan telur  ikan blue devil (Crysiptera cyanea).
     Disarankan dalam melakukan pemijahan dilakukan dengan perbandingan jantan  betina yang lebih besar, karena  peluang ikan  matang gonad pada saat musim pemijahan lebih besar lihat tabel 3. 
DAFTAR PUSTAKA
 Allen, GR, 1991. Damselfishes of the World. Mergus, Germany. - 271pp. 271pp.
Allen.G.R. and R. Swainston, 1992. Reef Fishes of New Guinea Cristensen Research Institute(Madang)
Huttner A.F.1980. Comparative Embryology  of  the  Vertebrates.  MacmillanCompany, New York
Khow. A.S. 2009, Metode dan Analisa Kuantitatif dalam Bioekologi Laut.
La Anadi, 1998. Tanggap betok Ambon (Chrysiptera cyanea) terhadap pemberian beberapa jenis umpan.(Tesis IPB. Bogor)
Partodiharjo, Soebadi. 1990. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya, Surabaya
Quoy and Gaimard, 1825 dalam Fish Base 2010.
Randall, JE, Allen GR, & Steene RC, 1997. – Fishes in  Great Barrier Reef & Coral Sea (edisi kedua). of Hawaii     USA,. 557pp.
Suharti, S.R. 1996, Keanekaragaman jenis dan kelimpahan Pomacentridae di Terumbu Karang perairan Selat Sunda. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia No. 29:
Utiah, A. 2006. Penampilan Reproduksi Induk Ikan Baung (Hemibagrus nemurus Blkr) dengan Pemberian Pakan Buatan yang Ditambahkan Asam Lemak n-6 dan n-3 dan dengan Implantasi Estradiol-17 dan Tiroksin. Disertasi. Institut Pertanian Bogor.

  


Budidaya ikan hias blue devil

Budidaya ikan hias blue devil
Benih hasil budidaya

Budidaya Ikan Hias Clownfish

Budidaya Ikan Hias Clownfish
Benih ikan Clownfish

AMBON (17/7) - HASIL PEMBENIHAN IKAN HIAS. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta (kanan) didampingi Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu menyaksikan hasil pembenihan ikan hias yang dilakukan para peneliti pada Balai Budidaya Laut Ambon saat Pencanangan Program Iptek Koridor Ekonomi Papua-Kepulauan Maluku yang berlangsung di Ambon, Maluku, Selasa (17/7). FOTO ANTARA/Izaac Mulyawan/ed/nz/12. sumber: antarafoto.com

Text Widget

Blogroll

Blogger templates

Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts